Candyman

Candyman ★★★★

Bagaimana Candyman menggabungkan horor dengan social commentary adalah suatu hal yang perlu diacungi jempol. Naskahnya—yang ditulis oleh tiga orang sekaligus—tidak lupa membangun teror selagi menyenggol berbagai macam isu, dari gentrifikasi hingga kritik mengenai kekerasan yang dijadikan objek seni. Dari banyaknya hal yang dibahas sayangnya tidak semua digali dengan mendalam dan berakhir menjadi sebatas obrolan para karakternya. Although I really love the dialog about when a white woman died in the hood, the story lives forever.

Bagi saya, film social commentary yang baik adalah film yang menggunakan social commentary tersebut sebagai pondasi dari ceritanya sehingga naskah suatu film dapat menggali dengan dalam isu-isu sosial dan membuat filmnya menjadi sebuah film yang powerful. Contoh terbesar adalah Get Out. Film besutan Jordan Peele itu menjadikan rasisme dan prejudice kaum kulit hitam di masa modern sebagai pondasi dasar sehingga filmnya tidak kehilangan arah dan beberapa hal yang dibahas berakhir menjadi satu kesatuan yang utuh.

Candyman tidak seperti itu. Filmnya punya satu pembahasan pokok yang menjadi pondasi cukup kuat namun seiring berjalannya cerita, isu-isu lain ikut disenggol dan dibahas namun tidak dengan cara yang kreatif ataupun digali dengan mendalam. Gentrifikasi sering dibahas di film ini namun cuman lewat dialog tanpa simbol atau metafora visual kuat sehingga seperti yang saya sebut diatas, hanya disenggol tanpa digali dengan mendalam. Pembahasan tersebut juga tidak dibuat terlalu berhubungan—although it could become more connected if they really dig deeper—dengan narasi utamanya yang membahas siklus kekerasan tiada akhir terhadap kulit hitam oleh supremasi kulit putih. It's actually not a bad thing, just it could be so much more. It would be interesting if they really dig deeper on those issues and connect them to the main story. In the end, it feels like a movie that has one social commentary and is trying to much to put other things to make it look cool. Apart from that, it's great and I agree about what's in the commentary.

Segi horor filmnya sangat memuaskan, punya vibes yang berbeda dengan film pertamanya yang membuat Candyman karya Nia DaCosta ini terasa fresh. Adegan-adegan pembunuhannya dikemas dengan framing kreatif yang bermain-main dengan ekspetasi ditambah sentuhan humor yang membuat setiap adegan pembunuhannya terasa sangat menghibur. There's a lot of running jokes about the urban legend and those idiots who dare to do it. Adegan di sekolah jadi bukti kepiawaian naskahnya dalam menghadirkan humor sinting tersebut.

Menurut saya, film terbaru ini merupakan sebuah peningkatan dari film pertamanya, baik mengenai penyampain social commentary beserta isinya hingga penuturan kisah dan terornya. It's a quite weird movie for commercial horror though. Intinya sih ya, film ini mengkoreksi hal-hal yang kurang di film pertamanya seperti steriotip dan tema black trauma karena di film pertamanya murni tentang kulit putih. Naskahnya membuat mitologi mengenai Candyman menjadi lebih luas dan dibahas dengan lebih dalam sambil menyenggol satu/dua sub-genre horor lain. Rasanya bagaikan menonton Ju-on namun versi Amerika dimana hantunya adalah pria kulit hitam dengan kail di tangan kanannya. Hal lain yang membuat saya kagum adalah kesuksesan film ini dalam hal membahas luka mendalam akibat sejarah rasisme dan sistem yang muncul tanpa terasa mengeksploitasi kesengsaraan kulit hitam seperti Antebellum. Indeed, a pain like that lasts forever.

Deo liked these reviews