MOTHER

MOTHER ★★★½

This review may contain spoilers. I can handle the truth.

This review may contain spoilers.

Bener kata Lulu Andhita, temen blogger yang udah nonton dan ngerekomendasiin ini ke aku, kalau filmnya dark banget nggak ada bahagia-bahagianya. Asli, ini film yang bikin aku menyangkal lagu anak-anak berjudul Kasih Ibu itu benar adanya di dunia nyata. Karena kasih ibu di film ini yang bernama Akiko (Masami Nagasawa) bertolak belakang banget sama lirik,

“Tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali. Bagai sang surya menyinari dunia.”

Akiko ini ibu yang toxiiiiiiic banget. Adegan di awal film ini di mana Akiko malah ‘bangga’ liat anaknya pulang bolos sekolah dan pamer kalau dia bolos kerja, terus tau anaknya ada luka di lutut bukannya diobatin malah dijilat, udah bikin aku memvonis kalau Akiko ini ibu aneh.

Ternyata bukan cuma aneh. Tapi juga barbar nggak tau aturan, binal, tukang ngutang sana sini, pemabuk, penjudi, bodoh karena mau-mau aja sama cowok kasar suka mukul, manipulaf suka eksploitasi anaknya yaitu Shuhei (Daiken Okuidara). Manipulatif bangeeeeet. Suka pakai uang tunjangan anaknya, nyuruh anaknya minta uang sana-sini, ngegunain anaknya buat memeras orang, ngatain anaknya bau, sampai ngehasut anaknya yang punya semangat belajar tinggi itu biar nggak sekolah lagi.

Sepanjang nonton ini rasanya kayak maraton nonton kumpulan sinema azab Indosiar. Sifat-sifat setan yang biasanya ada di tokoh antagonis sinema azab Indosiar, diborong Akiko semua. Keputusan buat nonton ini pas pulang kerja jadi salah satu keputusan yang salah dan aku sesali, selain keputusan beli lipstick Make Over nggak dicoba dulu taunya warnanya nggak cocok di bibir. CAPEK NONTONNYA, BUUUUUUUUN. Isinya Akiko bikin masalah mulu terus Shuhei yang harus ngeberesin. Shuhei yang awalnya masih kecil terus jadi umur 17 tahun. Shuhei yang dewasa sebelum waktunya, yang maksudnya punya tanggung jawab besar di usianya yang dini. Shuhei yang nggak ngelawan sama ibunya dan nanggung kesalahan ibunya.

Karakter Shuhei si anak ‘berbakti’ itu di satu sisi bikin kasihan, tapi di sisi lain ngeselin. Aku menyayangkan film ini nggak punya adegan di mana Shuhei memberontak. Ada sih pas dia mau nyoba ambil buku-buku yang dibuang Akiko ke luar kamar, tapi yaudah gitu aja. Shuhei kembali ke jalan ninjanya yaitu jadi anak penurut. Iiiih bikin kesel kenapaaaaa siiiiiiih ibu kayak gitu tetap diturutin dan disayangiiiiiiiin huhuhuhuhu.

Tapi ya namanya juga hubungan toxic, udah terjebak di dalamnya itu si Shuhei. Adegan menuju ending di mana Shuhei bilang, “Apakah salah aku mencintai ibuku?” seolah menegaskan kalau Shuhei memang sebegitu sayangnya. Walaupun dia sampai harus masuk penjara karena ngebunuh kakek-neneknya sendiri atas perintah ibunya. Shuhei cinta buta sama ibunya.